yang penuh dan meluber
perlahan keruh penuh peluh
ditampung janji tak berkeluh
biarpun bocor dan lepuh
ia terpaksa meramu
sampai jadi pilu
such a random life journal but berkedok productivity
yang penuh dan meluber
perlahan keruh penuh peluh
ditampung janji tak berkeluh
biarpun bocor dan lepuh
ia terpaksa meramu
sampai jadi pilu
selama ini, sebenarnya aku tengah menghadapi konflik batin terhadap sesuatu. bukan mantan, bukan pula perundung di sekolah. mungkin kalian akan menganggapku berlebihan jika mengetahuinya.
aku bermusuhan dengan sebuah
wajan.
wajan kecil, sudah ada di rumah
sejak 10 tahun lalu (bahkan lebih?). entah ibu membelinya dari mana, tapi aku
rasa wajan itu hanya membawa sial bagi hidupku saja.
aku sudah berkali-kali bilang ke
ibu bahwa aku ingin sekali wajan itu hancur, kemudian kubuang di tempat
pembuangan sampah yang paling bau sedunia. kalau perlu dilindas saja
dengan buldoser, tak perlu dikubur karena bukan merupakan benda yang mulia. biar saja luntang lantung sendiri diterpa berbagai cuaca. sebab,
aku sudah semuak itu dengan wajan yang pantatnya sudah hitam legam dan penuh karat itu.
tapi ibu melarangku. dia malah
menggaslight (bahasa anak mudanya, kalian paham kan maksudku?) bahwa
kesialan yang aku alami selama ini berkaitan dengan wajan itu adalah salahku
sendiri. aku cukup tersentak dan tidak terima begitu mendengar ucapan ibu. kok
bisa justru aku yang disalahkan?
katanya, yang punya kontrol dalam
memasak adalah aku, bukan wajannya. wajan dianggap hanya hidup terdiam,
termangu, menunggu manusia menggunakannya, tapi demi tuhan, aku yakin dia tidak
hanya diam. dia sudah salah teknik dalam mengalirkan panas dari api kompor ke bahan makanan
yang aku taruh di atasnya. dia bersalah atas semua kegagalan dalam masakanku.
buktinya, saat aku memasak dengan wajan lain, masih aman-aman saja, tuh. tidak
pernah gagal, selalu sesuai yang diharapkan.
begitu aku menggunakannya (di
saat-saat kepepet, biasanya karena wajan lain sudah terpakai atau belum
dicuci) selalu ada saja masalah pada masakanku. kerapnya sih gosong.
padahal tingkat panasnya sudah kuatur ke yang paling kecil untuk menghindari
kegosongan yang tak diharapkan. tapi tetap saja gosong lagi.
kalau kalian menyarankanku untuk: “ya sudah sih, tinggal pakai wajan yang lain. kenapa dibikin repot?”
kalian salah! bukan itu poinnya!
sudah seharusnya wajan bertugas
untuk membantu manusia, bukannya menyusahkannya, kan? kenapa harus aku yang
menyesuaikan diri pada benda itu. mereka kan diciptakan memang untuk memasak,
bukan untuk menggosongkan. ah, kalian tidak paham ya, rasanya sudah berusaha
sekeras mungkin untuk hati-hati dan telaten dalam menggunakannya, tapi tetap
saja hasilnya nihil?
“memangnya selain kamu yang pakai, masakannya gosong juga?”
nah, ini juga menjadi pertanyaanku. aku tidak begitu mengingat siapa saja yang
pernah menggunakan wajan burik itu. tapi ketika ibuku menggunakannya terakhir
kali, tidak gosong, sih.
tapi aku tidak terima kalau aku
disalahkan! itu pasti karena ibu guru fisika; dia pasti menggunakan
teknik-teknik tertentu dan memperhitungkan rumus berdasarkan ilmu fisika tentang aliran kalor yang
diketahuinya sehingga masakannya tidak gosong. tapi masak aku juga harus
belajar fisika dulu hanya untuk memasak? aku kan anak ips.
kalau dari sudut pandang
khayalanku, mungkin wajan itu punya dendam padaku, semacam masalah personal.
tapi, memangnya aku pernah melakukan apa, ya? aku tidak pernah memukul, atau
membanting, atau mengolok-oloknya? ya, sekarang sih benar kalau aku menjelek-jelekannya,
tapi sebelumnya kan tidak!
apa dia muak dengan aku yang
masak itu-itu saja? tapi kan yang memakan masakanku aku sendiri? kenapa dia
yang muak?
apa karena aku tidak pernah memberinya
hadiah atas jasanya yang telah bekerja keras? loh, dia kan benda mati, kenapa harus diberi hadiah?
atau …
dia jelmaan dari orang
yang pernah aku ghosting beberapa bulan yang lalu karena aku belum siap
menjalin hubungan yang sehat secara emosional?
oh … sepertinya aku sudah mulai gila. sebelum jadi lebih parah, lebih baik aku diam-diam ambil wajan itu dari rak peralatan dapur kemudian membuangnya sejauh mungkin.
setidaknya, setelah itu dia tidak bisa kembali ke rumah dan menyakitiku lagi.
perkara jatuh cinta, ada kalanya aku merasa rugi dan menyesalinya. aku menyesal telah jatuh cinta. rasanya telah membuang energi dan waktuku secara percuma.
seharusnya, aku bisa memakai energi dan waktu itu untuk lebih mencintai diri sendiri daripada mencintai seseorang yang tidak bisa memberikan cinta yang sepadan.
seharusnya, aku bisa memakai energi dan waktu itu untuk fokus membangun masa depanku sendiri tanpa perlu membayangkan masa depan akan dibersamai oleh sosok yang tidak pasti.
seharusnya, aku tidak perlu merasakan patah.
seharusnya aku tidak perlu menyia-nyiakan literan air mataku.
dan rentetan "seharusnya" lainnya telah terhimpun dalam satu folder dengan nama 'penyesalan.zip'.
meski begitu, di balik segala penyesalan yang telah terhimpun, ada satu hal yang rasanya tidak bisa aku dapatkan jika aku tidak pernah jatuh cinta, yaitu kesadaran bahwasannya jatuh cinta memaksaku untuk berkaca dan melihat sepenuhnya jati diriku yang selama ini tak kasat mata; ia bersembunyi ketika aku sedang tidak dalam kondisi nyaman untuk memberikan cinta kepada orang lain. ia bersembunyi ketika aku masih sibuk dengan diriku sendiri dan menjadi sosok yang tidak begitu mempertimbangkan keberadaan orang lain di sisiku.
hal yang terus bersembunyi itu adalah keadaan mentalku yang sesungguhnya; yang tidak begitu aman, tidak begitu ideal untuk jatuh cinta. sejak saat itu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku telah hidup dalam 'survival mode'. aku baru menyadari bahwa selama ini aku belum benar-benar berani membuka hati sepenuhnya. oleh karena itu, aku sangat sangat haus akan validasi. aku mudah merasa tidak aman tiap kali ada sesuatu yang tidak biasa--ntah bagaimana instingku begitu kuat sampai hal ganjal sekerdil apapun tetap bisa kujangkau dengan firasat. aku mudah sekali merasa bahwa aku tidak begitu diinginkan. aku mudah sekali merasa terancam tiap kali ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak aku ketahui, sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.
aku selalu ingin tahu dan diyakinkan; sebenarnya aku benar-benar layak untuk dicintai atau tidak.
rupanya, aku tersusun atas ribuan kecemasan yang bertabur ketakutan. kepercayaan adalah alat tukar dari harga diriku selama ini, sehingga ketika sekali salah menaruh kepercayaan kepada seseorang atau sesuatu, rasanya sama seperti meledakkan bom bunuh diri yang membuatku mati tidak syahid. harga diri pun hancur lebur bersamaan dengan jasadku.
pikiranku teracik dari berliter-liter keraguan dan trauma yang membeku, seperti bunga es yang dibiarkan berada di dalam freezer selama 25 tahun. semua itu membuatku sulit merasa 'penuh', dan sulit untuk dicintai dengan bekal pemeliharaan emosional yang rendah. aku sangat sadar terhadap kondisi ini, pun kadang menganggapnya sebagai sebuah penyakit.
tapi aku juga percaya bahwa cinta yang benar akan memudahkanku dalam melawan apa-apa yang sulit dalam diriku, memberikanku kesempatan untuk sembuh dan melepas beban kecemasan, menguatkanku sehingga aku mampu merenggangkan segala kemelekatan dan ketakutan akan ditinggalkan.
sehingga:
aku harap, cinta yang benar itu betul-betul ada, dan berkenan menjemputku dengan hati-hati; sehingga ketika ia mengetuk, aku masih mampu untuk menggulirkan gagang pintu dan menyambutnya dengan senyum sembari berucap: "selamat datang, silakan masuk dan duduk senyamanmu."
home sweet dream Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review