Selasa, 07 Juli 2026

menghitung tenant es teh jumbo di sepanjang perjalanan patah hati

Diposting oleh fuyuhanacherry di 18.02 0 komentar

aku yakin tidak hanya di daerah tempat tinggalku saja, di berbagai belahan bumi Indonesia yang lain juga sedang marak-maraknya tenant es teh jumbo yang berjejer di sepanjang jalan kabupaten. mungkin setiap 100 meter jalan yang dilewati diwakili oleh 1 tenant. nama brand nya pun bermacam-macam; dari teh desa, teh kota, teh warga, teh poci, teh baru, teh sarirasa, dan lain-lain — mungkin akan lebih epik kalau ada merek teh urban yang bisa merekap semua brand itu.

tapi kalau musim hujan begini memangnya tetap laku, ya? terkadang aku melewati tenant-tenant itu sambil bergumam sendiri. sepatu docmart KW yang kubeli di harga sekian ratus ribu melangkah di atas tanah lembab yang baru saja terguyur hujan sore itu. udaranya cukup segar, seperti baru saja dikuras dan dibersihkan oleh rerintikan air mata langit bak air terjun dari khayangan.

sebenarnya aku lumayan suka hujan; apabila tidak ada hal yang harus dilakukan. saat hari libur, misalnya. namun, akan berbeda cerita jika aku punya tanggungjawab yang harus tetap dijalankan dan memaksaku untuk berjibaku menerjang huru haranya. basah, dingin, becek, segala keluhan tersemat di setiap pikir orang-orang yang tidak punya hak istimewa untuk tetap bisa hidup bersantai-santai saja. 

dengan fakta itu, terkadang ada rasa bersalah yang bersembunyi di benakku, ketika mengingat bagaimana semua orang (dengan keadaan macam-macam) berjuang demi bertahan di hari itu. aku beruntung bisa tinggal di bawah atap yang cukup kokoh (walau terkadang bocor juga di beberapa titik) sehingga aku bisa aman dan selamat dari terjangan hujan yang terkadang berkembang menjadi badai. tapi tak semuanya seberuntung (atau setidak beruntung) aku yang bisa memilih tidur nyenyak ditemani suara angin dan hujan itu. tapi aku juga menyadari, bahwa empatiku tak mampu mengubah kondisi dunia menjadi lebih baik; ia hanya cukup untuk mendoakan dan menahan rasa tinggi hati.

selain itu, tak semua hari membutuhkan es teh jumbo. ada kalanya dunia ini tetap baik-baik saja tanpanya. orang-orang yang tetap berjaga di balik tenant-tentant es teh jumbo itu tentu merupakan golongan orang yang setengah sial — harus tetap menunggu datangnya puing-puing rezeki di kala peluangnya kecil (siapa juga yang terfikir untuk meminum minuman dingin ketika sedang kedinginan?).

tapi entah kenapa, saat itu aku justru menjadi sosok yang aku pertanyakan. sepulangnya dari mengajar les privat, kusempatkan menepi dari jalanan raya yang nyaris banjir ke sebuah tenant es teh jumbo yang masih menunjukkan ketersediaannya untuk berniaga.

sebenarnya tidak cocok aku berujar “entah kenapa”, sih, karena sebenarnya aku cukup paham secara alam bawah sadar mengapa aku memutuskan hal itu. aku baru saja mengirimkan pesan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan

yang lucu adalah, bahkan hubungan tersebut tidak pernah dimulai, tapi kok putus? aku pun bingung menjelaskannya. tapi pada intinya, di hari itu aku baru saja mengakhiri suatu relasi yang menurutku sudah timpang. sejujurnya, aku masih kepikiran apakah keputusanku ini sudah tepat atau tidak. padahal harusnya nothing to lose karena aku tidak pernah menginvestasikan apapun yang cukup ‘berharga’ seperti waktu, atau kehormatan. tapi kenapa ya, rasanya tetap mengganjal ….

lantas, apa hubungannya hal tersebut dengan keputusanku membeli es teh jumbo saat hujan? entahlah, sepertinya aku hanya berusaha mencari distraksi agar tidak terlalu larut dalam lamunan dan hujan yang membuatku bernostalgia seorang diri, meromantisasi kenangan-kenangan yang pernah terjadi

“habis dari mana, mbak?”

ibu penjual es teh jumbo tiba-tiba memberiku pertanyaan, selagi tangannya masih mengaduk teh di dalam gelas plastik bening.

“habis ke rumah murid di daerah semawi, buk, les privat.”

“oalah njenengan guru to. asli sini?”

aku menggelengkan kepalaku, lantas menyahut, “saya asli brebes.”

“ohh pantes,” jawab perempuan itu. entah ada ciri khas apa dalam diriku sampai dia bisa menebak identitasku yang bukan orang asli daerah sini. “di sini ngekos? atau nikah sama orang sini?”

wah, kata keramat itu lagi. sampai kenyang rasanya dikira sudah menikah oleh berbagai orang random. kemarin baru saja dikira sudah nikah oleh petugas puskesmas, sekarang oleh penjual es teh.

“saya belum nikah, buk. ngekos aja, hehe.”

“wah, pasti berat ya sendirian jauh dari rumah.” dia menatapku dengan tatapan iba sambil menyerahkan satu cup es teh jumbo yang sudah siap dibawa pulang.

aku menyambut es teh jumbo itu dengan kedua tangan, dan langsung memberikan dua lembar uang 2000 sebagai alat tukarnya. oh iya, sejak lebaran kemarin, harga es teh jumbo di sini naik seribu rupiah, sangat disayangkan.

matur nuwun, buk. pamit dulu, nggih.”

“tapi masih hujan lho, mba. nggak mau neduh dulu?”

aku sempat mempertimbangkan selama beberapa saat saran dari perempuan itu, sebelum akhirnya mengiyakan. “kayaknya masih lama ya redanya.”

di sana hanya tersedia satu kursi kayu panjang yang biasa aku temukan di rumah nenek. tidak ada senderan maupun pegangan, tapi cukup kokoh untuk menahan beban sekitar 3 manusia dewasa. di hadapan tenant, jalan beraspal sudah basah tertimbun air hujan yang sudah berlangsung selama kurang lebih satu jam itu. biasanya, di daerah sini kalau hujan besar dan lama, akan disertai dengan mati listrik. karena alasan itulah aku memilih untuk stay di tenant, hitung-hitung agar ada teman mengobrol yang bisa menjadi distraksi dari patah hati itu

“ibu tinggal di sekitar sini?”

“betul, di belakang masjid an-nur kalau tau.”

sepertinya aku pernah mendengar nama masjid itu, hanya saja lupa di mana lokasi tepatnya. tidak mau kehabisan topik, aku berinisiatif untuk bertanya lagi, “kalau ibunya asli orang sini atau ngikut suami?”

entah kenapa aku merasa lawan bicaraku memancarkan energi yang berbeda sejak aku menanyakan pertanyaan itu, dan benar saja, semua terjawab dari apa yang dia katakan selanjutnya. “saya asli sini mbak, tapi suami saya kerja di luar.”

long distance marriage rupanya, pantas saja nada suaranya agak layu, pikirku. “oalah, kalau boleh tau kerjanya di mana, buk?”

“aku yo ndak reti, mbak.”

jawabannya sontak membuatku tercengang. kok bisa tidak tahu? zaman sekarang teknologi untuk berkomunikasi itu mudah diakses oleh semua kalangan, kan?

“kerjanya pindah-pindah kah?”

“mungkin,” jawabnya lirih, kemudian menambahkan. “atau simpanannya ada di mana-mana jadi dia muter terus.”

waduh, gawat, sudah masuk ranah privasi yang kurang nyaman untuk dibicarakan. seketika suasana berubah menjadi canggung, dan aku bingung bagaimana cara untuk mencairkannya. 

“umurnya berapa, mbak?”

aku cukup merasa lega begitu mendengar pertanyaan dari si ibu, akhirnya aku tidak perlu repot-repot mengganti topik, batinku. “tahun ini 25 tahun.”

“masih muda, ya. tapi kalau orang daerah sini pasti nganggapnya sudah cukup tua untuk menikah.”

“di kampung halaman saya juga begitu sih, buk. padahal hilal jodoh saya aja belum jelas, haha.”

ndak apa-apa, mbak. semoga segera kelihatan dan dapat jodoh yang baik, soleh, bertanggungjawab, setia, dan penyayang, ya.”

ini bukan pertama kalinya aku mendapat doa sejenis itu tapi entah kenapa mendengarkan doa itu diucapkan oleh seorang wanita yang hubungan dengan suaminya sedang tidak baik (bisa kusimpulkan dari raut wajah dan nada bicara sinisnya), aku merasa sedih … tapi juga terharu. aku sedih karena sepertinya ibu penjual es teh jumbo ini sedang menjabarkan apa yang dia inginkan pula dari pasangan hidupnya — dan mungkin realitanya tidak terpenuhi saat ini

“aamiin, terima kasih, bu. semoga ibu juga selalu bahagia bersama keluarga, ya.”

sejauh kami berbincang, tiada seorangpun yang mampir ke tenant es teh jumbo itu. kesimpulannya, berarti aku memang salah satu anomali yang mau-maunya saat kedinginan di tengah hujan malah memilih minum es teh jumbo. tapi entah kenapa obrolan kecil ini membuatku sadar bahwa perempuan yang terluka itu tidak sedikit, dan cukup wajar. sesama perempuan juga bisa menyadari luka satu sama lainnya dari sinyal-sinyal tertentu yang tidak dapat dijelaskan dengan berbagai alat linguistik semata

mungkin aku tidak tahu apa permasalahan yang dialami ibu penjual es teh ini, dia juga tidak tahu bahwa saat ini aku sedang patah hati. tapi kami sama-sama paham bahwa jatuh cinta itu cukup berat dan harus banyak merelakan

rela untuk dipisahkan oleh jarak, rela untuk dipisahkan oleh kesalahpahaman

hujan sudah mulai reda, berganti menjadi gerimis yang anggun. yang tadinya rintik air jatuhnya beramai-ramai seperti sedang tawuran, kini jatuh pelan-pelan bak putri solo. aku menadahkan tangan untuk memastikan apakah sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan pulang.

“saya pamit dulu nggih, bu. hujannya sudah lumayan reda.”

“hati-hati mbak, mampir lagi ya kapan-kapan.”

aku mengangguk sambil tersenyum. es teh jumbo yang kubeli belum sepenuhnya habis, masih ada setengah dari cup jumbo yang akhirnya aku bawa pulang (peduli amat jika tercampur dengan rerintikan air hujan). selagi motorku melaju mengarungi jalan menuju kos, tiba-tiba aku teringat lagi dengan rasa sakit dari patah hati itu.

air mataku pun jatuh beriringan dengan rintik air hujan, yang kemudian bercampur, meracik sebuah menu baru; mungkin bisa dijadikan salah satu varian es teh jumbo di tenant tenant pinggir jalan itu. kira-kira, apa nama varian produk yang pas dari hasil air mataku ya, sebagai bukti bahwa aku telah mencintai seseorang setulus ini? 

Selasa, 23 Juni 2026

dan pelajarannya adalah

Diposting oleh fuyuhanacherry di 16.03 0 komentar
setelah aku membiarkan perasaanku berkutik untuk satu nama yang sama dari 2 tahun lalu, akhirnya aku sudah sampai di titik bahwa aku mendapatkan pelajarannya

dua tahun kemarin terasa sumpek, lelah, dan entah kenapa aku tetap bertahan di situasi tersebut. sekilas memang tidak terlihat genting, tapi ternyata dengan membiarkan luka-luka kecil yang terus tertampung seiring berjalannya waktu, hasilnya cukup mencengangkan. jujur, dari awal aku bahkan gak punya ekspektasi bahwa perasaanku akan bertahan selama ini, harapanku akan menetap sepanjang ini. sebab sebelumnya, aku belum pernah merasa seperti ini--biasanya kalau jatuh cinta atau dekat dengan seseorang kemudian patah hati, semuanya akan berlalu dalam hitungan bulan. tapi untuk kasus ini entah mengapa berbeda dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama

mungkin karena dalam dua tahun itu aku belum benar-benar belajar, belum benar-benar mengerti apa yang harus aku jadikan "lesson learned"nya. tapi sekarang aku pelan-pelan sudah mulai menemukannya

terjebak di hubungan yang sebenarnya bukan merupakan hubungan juga, duh gimana ya jelasinnya wkwkwk gapernah ada hubungan yang jelas tapi pernah sedekat dan seintens itu sampai perasaan dan pikiranku terlalu banyak diinvestasikan, kemudian dilanjut dengan kedenialan bahwa aku akan baik-baik saja dengan tetap mempertahankan "pertemanan", sampai akhirnya sampai di titik bahwa aku merasa... ini bukan sebuah relasi yang sehat

kalau memang teman, seharusnya tidak akan terasa semelelahkan itu. teman itu bukan semata-mata hubungan 2 orang yang tampaknya baik dan saling mendukung, kan? menurutku, walaupun teman punya potensi melukai, tapi kalau lukanya sedalam ini, artinya ada yang salah dengan pertemanan tersebut. makanya aku tidak consider hubungan tersebut sebagai pertemanan yang sejati juga, karena aku lebih sering merasa waswas, dan justru tidak tenang jika terlalu banyak berinteraksi dengannya. sebab aku takut... takut kalau aku jadi berharap terlalu banyak dan takut perasaanku tidak dipertimbangkan lagi

itulah masalahnya. pertemanan dengan perasaan itu omong kosong. aku sudah menduga itu dari awal, aku bahkan sudah mewanti dia bahwa aku tidak bisa berteman jika masih ada perasaan. aku yang paling paham diriku sendiri, aku yang paling paham sejauh mana kapasitas perasaan dan mentalku. tapi dia terus membujuk bahwa berteman tidak akan membentuk masalah baru. dan sekarang terbukti, dia salah

tapi tidak apa, setidaknya akhirnya aku mengetahui sedalam apa aku mampu mencintai seseorang, sejauh mana aku bisa bertahan dan mempertahankan, sejauh mana aku bisa menoleransi dan mengikuti kata hatiku untuk terus mengharapkan sesuatu

dan yang paling penting sekarang aku jadi sadar dan mampu menerima kenyataan tentang sejauh mana ketulusanku ketika mencintai seseorang. sebelumnya, aku cukup malu untuk mengakuinya karena masih memiliki mindset bahwa "yang paling dalam mencintai, yang paling lama bertahan, adalah pihak yang kalah". soalnya aku cukup sensitif dengan segala hal yang berkaitan dengan "kompetisi" (karena kupikir, kalau aku mengakuinya, orang-orang akan menganggapku pecundang, pihak yang kalah, memalukan, dsb). tapi sekarang, aku sudah cukup berdamai dan punya keberanian untuk mengakui bahwa aku memang dikaruniai hati yang setulus itu, dan itu bukan hal yang buruk! justru ini adalah anugerah bukan? aku juga sudah tidak cukup peduli jika orang-orang menyebutku bodoh karena cinta

aku juga akhirnya tahu, bahwa hal paling mahal dan mewah yang mampu aku berikan ketika mencintai seseorang adalah memaafkan dan melepaskannya

dengan begitu, aku cukup lega, mengetahui bahwa rupanya aku termasuk orang yang cukup baik. aku orang yang menghargai perasanku sendiri; dengan memberinya kesempatan untuk tumbuh dan bertahan semampunya. aku orang yang tidak mudah goyah perasaannya; karena dalam 2 tahun itu, aku benar-benar tidak menaruh rasa terhadap siapapun selain dia. aku orang yang setia--sekalipun tidak ada komitmen yang mengikat. aku orang yang mempertimbangkan dan mempedulikan orang yang aku sayangi. aku orang yang benar-benar ingin memastikan orang yang aku sayangi bahagia, entah itu bersamaku, atau bersama oranglain. masalah semua itu tidak mendapat timbal balik yang sama, tentu sudah di luar kendaliku

tapi di sisi lain aku juga masih cukup menyayangi diriku sendiri dengan menghentikan kait emosional dan cinta itu ketika masanya memang sudah selesai, ketika aku sudah mendapat pelajarannya--karena mungkin, yang selama ini aku cari adalah pelajaran itu; "kalau sudah sedalam dan sepanjang ini, kira-kira apa yang bisa aku dapatkan dan menjadi bekal di perjalananku selanjutnya?"

dan aku jadi punya gambaran bahwa, tidak mungkin orang yang seperti aku ini hanya ada satu di dunia, bukan? pasti di luar sana juga ada yang setara ketulusannya, atau bahkan lebih dari apa yang aku miliki

mungkin sama seperti kembaranku dari ireland itu (laufey), kesimpulannya adalah: aku merupakan seorang lover girl ulung--and will always be. mungkin di lain kesempatan, sisi lover girl-ku ini akan menemukan seseorang yang pantas mendapatkannya, aamiinn

Jumat, 19 Juni 2026

apabila x, maka y

Diposting oleh fuyuhanacherry di 19.55 0 komentar
temanku kemarin membuat sebuah komik
dan salah satu kutipan dari karakter utamanya berkata:
"di mana kita menaruh cinta, di situlah kita menaruh harapan"
yang artinya
apabila benar mencintai, maka di situ ada harapan
apabila ingin berhenti mencintai, maka harus berhenti berharap
dan sepertinya aku cukup setuju
jadi jangan sekali-kali memintaku
berhenti berharap
sedang kamu terus memberiku ruang
untuk mencintaimu

Minggu, 14 Juni 2026

repetisi asa

Diposting oleh fuyuhanacherry di 13.39 0 komentar

aku rindu rasanya dicintai

walau hanya salah paham yang aku yakini


aku rindu rasanya dikasihi

walau hanya basa basi yang aku anggap asli


aku rindu rasanya dihargai

walau hanya hadir dalam angan pikir


aku rindu rasanya dirindui

walau hanya tebakan yang disalaharti

Sabtu, 30 Mei 2026

30/05/26

Diposting oleh fuyuhanacherry di 16.16 0 komentar
aku mau menulis jurnal untuk upaya menyembuhkan sakit hati dan meredakan ketakutanku, soalnya kalo konsul ke psikolog mahal. yang udah nyakitin juga gak bayarin wqwq jadi yaudah nulis aja deh siapa tau ada efeknya. daripada dipendem terus jadi autoimun, keluar duit lagi ntar

akhir-akhir ini aku hampir setiap hari nangis. tapi aku bingung juga, setelah beberapa waktu bahkan 2 tahun setelah kejadian yang menjadi penyebab utamanya itu, kok aku tiba-tiba nangis. udah lama woi ngapa ga move on dah? mungkin orang-orang bakal bertanya begitu, aku juga sama kok

aku gak ekspek kalo ternyata lukanya bakal membekas selama ini. jujur dulu sok-sokan kuat dengan membatin "paling beberapa bulan kemudian juga sembuh" taunya enggak. sampe sekarang kalau ingat aku masih nangis, hahaha

tapi aku menyadari juga sih, kayanya ini pengaruh kondisiku saat ini juga yang kesepian di perantauan, jadi momen 'ngelamun' dan 'bengong' nya lebih banyak, trus tiba-tiba keingat beberapa bagian yang dulu sempat mengganjal, aku sambung-sambungin dengan bagian-bagian lainnya sampai akhirnya terbentuklah satu cerita utuh yang baru aku sadari saat ini. padahal kejadiannya ya udah 2 tahun lalu, cuma pas itu aku belum tau. ngeri banget sih

jadi long short story 2 tahun lalu aku pernah dekat sama seseorang yang belum selesai sama masa lalunya. jadi dia masih belum move on & masih sayang sama mantannya tapi deketin aku gitu deh. tapi pas itu aku gatau, soalnya dia bilangnya cuma temen cuma temen mulu. padahal di awal-awal ketemu (atau date?) dia pernah nyebut mantannya itu as mantan kesayangan (oon nih gw ga peka banget). sampe akhirnya aku baper deh karena komunikasi yang cukup intens. tapi eh ternyata mantan dia masih belum move on juga. di situlah aku mundur. tapi udah tiwas difitnah ini itu sama warga wqwq. jadi sakitnya tuh sebenernya dobel, sakit karena merasa dibohongi (dia bilangnya gaada apa-apa sama mantannya dan ngerasa cocoknya jadi temen doang) sama sakit karena difitnah orang-orang yang gatau kalo aku di sini justru yang paling dirugikan, karena aku awalnya adalah orang luar yang gatau apa-apa (kalo mereka kan emang udah sering ribut yah)

harusnya cerita berakhir di situ aja ya terus aku melanjutkan hidup. taunya enggak. luka-luka yang sempat sembunyi akhirnya terbuka semua sekarang. apalagi dengan fakta bahwa dulu aku sempat denial bahwa aku tersakiti, sekarang aku mulai terima bahwa aku benar-benar jadi korban di cerita tersebut

dulu sih aku gengsi ya. aku prefer jadi villain di cerita orang daripada jadi korban gitu. soalnya korban tuh kek menye-menye aja kesannya, aku gamau dianggap begitu. tapi emang dasarnya oon, udah jadi korban kok malah gak merasa korban. pas udah sadar nangis-nangis dah lu wkwkwkwkw

nah akhir-akhir ini aku sedihnya tuh karena tiba-tiba ngerasa ternyata aku ga seberharga itu ya, aku gak pantes ternyata diperjuangkan, aku gak pernah dipilih, aku gak seoke itu buat jadi tujuan seseorang, aku sebodoh itu udah percaya bahwa intensi orang yang mendekatiku itu sama kayak aku yang tulus pengen mengenal lebih jauh dan menyayanginya, ternyata aku dibanding-bandingin sama masa lalunya ya, ternyata aku gak bisa ya dilihat sebagai sosok "aku" sepenuhnya tanpa dibandingin sama orang lain, ternyata aku ga seberharga itu, gak layak dicintai secara utuh, gak layak diprioritaskan, dan lain-lain

aku ngerasa sedih, rendah diri, dan ngerasa diriku sendiri juga payah karena udah pede bahwa aku ini berharga dan pantas diperjuangkan. karena nyatanya gak ada yang melakukannya. nyatanya  mereka selalu memilih oranglain daripada aku. aku cuma dijadikan cadangan kalo mereka gagal sama orang yang benar-benar mereka sayangi dan pilih. aku gapernah jadi yang pertama, dan aku juga gapernah jadi yang terakhir.

aku ngerasa sedih karena sejauh ini aku belum pernah merasa bahwa perasaanku tepat sasaran dan diterima dengan baik. aku sedih karena aku ngerasa harus terus menunggu. aku sedih karena aku ngerasa aku gabisa percaya sama cinta lagi

paling tidak, untuk saat ini

padahal aku ngerasa aku butuh koneksi emosional, terutama sama orang baru. tapi aku juga rasanya masih sulit membuka pintu, apalagi membuka hati. aku selalu curiga bahwa ujungnya aku pasti gak akan dipilih, atau dijadikan cadangan, atau ditinggalkan

aku selalu menyayangkan kenapa dulu aku ngeladenin dan ngejalanin sejauh itu, harusnya aku gak perlu kaya gitu biar aku ga trauma kaya sekarang. kalo sekarang aku udah bisa membuka hati, mungkin aku bakal ketemu orang yang lebih baik dan gak nyakitin aku. walau aku ga yakin juga benar-benar ada orang yang kaya gitu

aku krisis kepercayaan ke semua hal. entah ke diriku sendiri, maupun ke oranglain

aku jadinya jahat sama diriku sendiri, karena ga ngasih kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru, yang mungkin bisa aja menyembuhkan (tapi kalo ternyata malah bikin jadi makin parah, gimana dong? aku takut...)

aku juga jahat sama orang lain yang mungkin berniat tulus mau dekat denganku, soalnya aku menolak percaya sebelum mereka mencoba

mungkin yang diomongin joker kalau orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti itu kaya gini, ya?

aku pengen jadi orang baik, baik ke diriku sendiri maupun oranglain. aku pengen ngerasain dicintai dengan tulus, murni, utuh, tidak terbagi, dan tenang. aku ingin hidup tenang. aku ingin aku mencintai orang yang benar-benar mencintaiku juga. aku ingin bisa percaya cinta lagi. aku ingin merasakan kebahagiaan kecil di tengah kehidupan sebagai wni yang kelam ini. aku ingin aku berani berharap bahwa aku punya kesempatan untuk bersinar dan diterima oleh diriku sendiri lagi

kira-kira aku bisa gak ya? kira-kira tahun depan--atau tahun ini, aku udah bisa ngerasain itu gak ya?

Senin, 16 Februari 2026

puasa puisi

Diposting oleh fuyuhanacherry di 18.25 0 komentar
sementara, aku sunyi;
diredam, ditahan, disekap waktu
tiada bandingkan yang kini dengan yang lalu
tiada bayangkan yang jika dengan yang jadi
maka, kupanjatkan doa; untukmu, kasih,
semoga getaran itu masih terhubung
dengan untaian harapanmu
yang sempat terjeda
oleh waktu dan ragu

Sabtu, 07 Februari 2026

jalan buntu di persimpangan gubug

Diposting oleh fuyuhanacherry di 15.13 0 komentar

yang penuh dan meluber

perlahan keruh penuh peluh

ditampung janji tak berkeluh


biarpun bocor dan lepuh

ia terpaksa meramu

sampai jadi pilu

 

home sweet dream Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review