setelah aku membiarkan perasaanku berkutik untuk satu nama yang sama dari 2 tahun lalu, akhirnya aku sudah sampai di titik bahwa aku mendapatkan pelajarannya
dua tahun kemarin terasa sumpek, lelah, dan entah kenapa aku tetap bertahan di situasi tersebut. sekilas memang tidak terlihat genting, tapi ternyata dengan membiarkan luka-luka kecil yang terus tertampung seiring berjalannya waktu, hasilnya cukup mencengangkan. jujur, dari awal aku bahkan gak punya ekspektasi bahwa perasaanku akan bertahan selama ini, harapanku akan menetap sepanjang ini. sebab sebelumnya, aku belum pernah merasa seperti ini--biasanya kalau jatuh cinta atau dekat dengan seseorang kemudian patah hati, semuanya akan berlalu dalam hitungan bulan. tapi untuk kasus ini entah mengapa berbeda dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama
mungkin karena dalam dua tahun itu aku belum benar-benar belajar, belum benar-benar mengerti apa yang harus aku jadikan "lesson learned"nya. tapi sekarang aku pelan-pelan sudah mulai menemukannya
terjebak di hubungan yang sebenarnya bukan merupakan hubungan juga, duh gimana ya jelasinnya wkwkwk gapernah ada hubungan yang jelas tapi pernah sedekat dan seintens itu sampai perasaan dan pikiranku terlalu banyak diinvestasikan, kemudian dilanjut dengan kedenialan bahwa aku akan baik-baik saja dengan tetap mempertahankan "pertemanan", sampai akhirnya sampai di titik bahwa aku merasa... ini bukan sebuah relasi yang sehat
kalau memang teman, seharusnya tidak akan terasa semelelahkan itu. teman itu bukan semata-mata hubungan 2 orang yang tampaknya baik dan saling mendukung, kan? menurutku, walaupun teman punya potensi melukai, tapi kalau lukanya sedalam ini, artinya ada yang salah dengan pertemanan tersebut. makanya aku tidak consider hubungan tersebut sebagai pertemanan yang sejati juga, karena aku lebih sering merasa waswas, dan justru tidak tenang jika terlalu banyak berinteraksi dengannya. sebab aku takut... takut kalau aku jadi berharap terlalu banyak dan takut perasaanku tidak dipertimbangkan lagi
itulah masalahnya. pertemanan dengan perasaan itu omong kosong. aku sudah menduga itu dari awal, aku bahkan sudah mewanti dia bahwa aku tidak bisa berteman jika masih ada perasaan. aku yang paling paham diriku sendiri, aku yang paling paham sejauh mana kapasitas perasaan dan mentalku. tapi dia terus membujuk bahwa berteman tidak akan membentuk masalah baru. dan sekarang terbukti, dia salah
tapi tidak apa, setidaknya akhirnya aku mengetahui sedalam apa aku mampu mencintai seseorang, sejauh mana aku bisa bertahan dan mempertahankan, sejauh mana aku bisa menoleransi dan mengikuti kata hatiku untuk terus mengharapkan sesuatu
dan yang paling penting sekarang aku jadi sadar dan mampu menerima kenyataan tentang sejauh mana ketulusanku ketika mencintai seseorang. sebelumnya, aku cukup malu untuk mengakuinya karena masih memiliki mindset bahwa "yang paling dalam mencintai, yang paling lama bertahan, adalah pihak yang kalah". soalnya aku cukup sensitif dengan segala hal yang berkaitan dengan "kompetisi" (karena kupikir, kalau aku mengakuinya, orang-orang akan menganggapku pecundang, pihak yang kalah, memalukan, dsb). tapi sekarang, aku sudah cukup berdamai dan punya keberanian untuk mengakui bahwa aku memang dikaruniai hati yang setulus itu, dan itu bukan hal yang buruk! justru ini adalah anugerah bukan? aku juga sudah tidak cukup peduli jika orang-orang menyebutku bodoh karena cinta
aku juga akhirnya tahu, bahwa hal paling mahal dan mewah yang mampu aku berikan ketika mencintai seseorang adalah memaafkan dan melepaskannya
dengan begitu, aku cukup lega, mengetahui bahwa rupanya aku termasuk orang yang cukup baik. aku orang yang menghargai perasanku sendiri; dengan memberinya kesempatan untuk tumbuh dan bertahan semampunya. aku orang yang tidak mudah goyah perasaannya; karena dalam 2 tahun itu, aku benar-benar tidak menaruh rasa terhadap siapapun selain dia. aku orang yang setia--sekalipun tidak ada komitmen yang mengikat. aku orang yang mempertimbangkan dan mempedulikan orang yang aku sayangi. aku orang yang benar-benar ingin memastikan orang yang aku sayangi bahagia, entah itu bersamaku, atau bersama oranglain. masalah semua itu tidak mendapat timbal balik yang sama, tentu sudah di luar kendaliku
tapi di sisi lain aku juga masih cukup menyayangi diriku sendiri dengan menghentikan kait emosional dan cinta itu ketika masanya memang sudah selesai, ketika aku sudah mendapat pelajarannya--karena mungkin, yang selama ini aku cari adalah pelajaran itu; "kalau sudah sedalam dan sepanjang ini, kira-kira apa yang bisa aku dapatkan dan menjadi bekal di perjalananku selanjutnya?"
dan aku jadi punya gambaran bahwa, tidak mungkin orang yang seperti aku ini hanya ada satu di dunia, bukan? pasti di luar sana juga ada yang setara ketulusannya, atau bahkan lebih dari apa yang aku miliki
mungkin sama seperti kembaranku dari ireland itu (laufey), kesimpulannya adalah: aku merupakan seorang lover girl ulung--and will always be. mungkin di lain kesempatan, sisi lover girl-ku ini akan menemukan seseorang yang pantas mendapatkannya, aamiinn
0 komentar:
Posting Komentar