aku yakin tidak hanya di daerah tempat tinggalku saja, di berbagai belahan bumi Indonesia yang lain juga sedang marak-maraknya tenant es teh jumbo yang berjejer di sepanjang jalan kabupaten. mungkin setiap 100 meter jalan yang dilewati diwakili oleh 1 tenant. nama brand nya pun bermacam-macam; dari teh desa, teh kota, teh warga, teh poci, teh baru, teh sarirasa, dan lain-lain — mungkin akan lebih epik kalau ada merek teh urban yang bisa merekap semua brand itu.
tapi kalau musim hujan begini memangnya tetap laku, ya? terkadang aku melewati tenant-tenant itu sambil bergumam sendiri. sepatu docmart KW yang kubeli di harga sekian ratus ribu melangkah di atas tanah lembab yang baru saja terguyur hujan sore itu. udaranya cukup segar, seperti baru saja dikuras dan dibersihkan oleh rerintikan air mata langit bak air terjun dari khayangan.
sebenarnya aku lumayan suka hujan; apabila tidak ada hal yang harus dilakukan. saat hari libur, misalnya. namun, akan berbeda cerita jika aku punya tanggungjawab yang harus tetap dijalankan dan memaksaku untuk berjibaku menerjang huru haranya. basah, dingin, becek, segala keluhan tersemat di setiap pikir orang-orang yang tidak punya hak istimewa untuk tetap bisa hidup bersantai-santai saja.
dengan fakta itu, terkadang ada rasa bersalah yang bersembunyi di benakku, ketika mengingat bagaimana semua orang (dengan keadaan macam-macam) berjuang demi bertahan di hari itu. aku beruntung bisa tinggal di bawah atap yang cukup kokoh (walau terkadang bocor juga di beberapa titik) sehingga aku bisa aman dan selamat dari terjangan hujan yang terkadang berkembang menjadi badai. tapi tak semuanya seberuntung (atau setidak beruntung) aku yang bisa memilih tidur nyenyak ditemani suara angin dan hujan itu. tapi aku juga menyadari, bahwa empatiku tak mampu mengubah kondisi dunia menjadi lebih baik; ia hanya cukup untuk mendoakan dan menahan rasa tinggi hati.
selain itu, tak semua hari membutuhkan es teh jumbo. ada kalanya dunia ini tetap baik-baik saja tanpanya. orang-orang yang tetap berjaga di balik tenant-tentant es teh jumbo itu tentu merupakan golongan orang yang setengah sial — harus tetap menunggu datangnya puing-puing rezeki di kala peluangnya kecil (siapa juga yang terfikir untuk meminum minuman dingin ketika sedang kedinginan?).
tapi entah kenapa, saat itu aku justru menjadi sosok yang aku pertanyakan. sepulangnya dari mengajar les privat, kusempatkan menepi dari jalanan raya yang nyaris banjir ke sebuah tenant es teh jumbo yang masih menunjukkan ketersediaannya untuk berniaga.
sebenarnya tidak cocok aku berujar “entah kenapa”, sih, karena sebenarnya aku cukup paham secara alam bawah sadar mengapa aku memutuskan hal itu. aku baru saja mengirimkan pesan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan
yang lucu adalah, bahkan hubungan tersebut tidak pernah dimulai, tapi kok putus? aku pun bingung menjelaskannya. tapi pada intinya, di hari itu aku baru saja mengakhiri suatu relasi yang menurutku sudah timpang. sejujurnya, aku masih kepikiran apakah keputusanku ini sudah tepat atau tidak. padahal harusnya nothing to lose karena aku tidak pernah menginvestasikan apapun yang cukup ‘berharga’ seperti waktu, atau kehormatan. tapi kenapa ya, rasanya tetap mengganjal ….
lantas, apa hubungannya hal tersebut dengan keputusanku membeli es teh jumbo saat hujan? entahlah, sepertinya aku hanya berusaha mencari distraksi agar tidak terlalu larut dalam lamunan dan hujan yang membuatku bernostalgia seorang diri, meromantisasi kenangan-kenangan yang pernah terjadi
“habis dari mana, mbak?”
ibu penjual es teh jumbo tiba-tiba memberiku pertanyaan, selagi tangannya masih mengaduk teh di dalam gelas plastik bening.
“habis ke rumah murid di daerah semawi, buk, les privat.”
“oalah njenengan guru to. asli sini?”
aku menggelengkan kepalaku, lantas menyahut, “saya asli brebes.”
“ohh pantes,” jawab perempuan itu. entah ada ciri khas apa dalam diriku sampai dia bisa menebak identitasku yang bukan orang asli daerah sini. “di sini ngekos? atau nikah sama orang sini?”
wah, kata keramat itu lagi. sampai kenyang rasanya dikira sudah menikah oleh berbagai orang random. kemarin baru saja dikira sudah nikah oleh petugas puskesmas, sekarang oleh penjual es teh.
“saya belum nikah, buk. ngekos aja, hehe.”
“wah, pasti berat ya sendirian jauh dari rumah.” dia menatapku dengan tatapan iba sambil menyerahkan satu cup es teh jumbo yang sudah siap dibawa pulang.
aku menyambut es teh jumbo itu dengan kedua tangan, dan langsung memberikan dua lembar uang 2000 sebagai alat tukarnya. oh iya, sejak lebaran kemarin, harga es teh jumbo di sini naik seribu rupiah, sangat disayangkan.
“matur nuwun, buk. pamit dulu, nggih.”
“tapi masih hujan lho, mba. nggak mau neduh dulu?”
aku sempat mempertimbangkan selama beberapa saat saran dari perempuan itu, sebelum akhirnya mengiyakan. “kayaknya masih lama ya redanya.”
di sana hanya tersedia satu kursi kayu panjang yang biasa aku temukan di rumah nenek. tidak ada senderan maupun pegangan, tapi cukup kokoh untuk menahan beban sekitar 3 manusia dewasa. di hadapan tenant, jalan beraspal sudah basah tertimbun air hujan yang sudah berlangsung selama kurang lebih satu jam itu. biasanya, di daerah sini kalau hujan besar dan lama, akan disertai dengan mati listrik. karena alasan itulah aku memilih untuk stay di tenant, hitung-hitung agar ada teman mengobrol yang bisa menjadi distraksi dari patah hati itu
“ibu tinggal di sekitar sini?”
“betul, di belakang masjid an-nur kalau tau.”
sepertinya aku pernah mendengar nama masjid itu, hanya saja lupa di mana lokasi tepatnya. tidak mau kehabisan topik, aku berinisiatif untuk bertanya lagi, “kalau ibunya asli orang sini atau ngikut suami?”
entah kenapa aku merasa lawan bicaraku memancarkan energi yang berbeda sejak aku menanyakan pertanyaan itu, dan benar saja, semua terjawab dari apa yang dia katakan selanjutnya. “saya asli sini mbak, tapi suami saya kerja di luar.”
long distance marriage rupanya, pantas saja nada suaranya agak layu, pikirku. “oalah, kalau boleh tau kerjanya di mana, buk?”
“aku yo ndak reti, mbak.”
jawabannya sontak membuatku tercengang. kok bisa tidak tahu? zaman sekarang teknologi untuk berkomunikasi itu mudah diakses oleh semua kalangan, kan?
“kerjanya pindah-pindah kah?”
“mungkin,” jawabnya lirih, kemudian menambahkan. “atau simpanannya ada di mana-mana jadi dia muter terus.”
waduh, gawat, sudah masuk ranah privasi yang kurang nyaman untuk dibicarakan. seketika suasana berubah menjadi canggung, dan aku bingung bagaimana cara untuk mencairkannya.
“umurnya berapa, mbak?”
aku cukup merasa lega begitu mendengar pertanyaan dari si ibu, akhirnya aku tidak perlu repot-repot mengganti topik, batinku. “tahun ini 25 tahun.”
“masih muda, ya. tapi kalau orang daerah sini pasti nganggapnya sudah cukup tua untuk menikah.”
“di kampung halaman saya juga begitu sih, buk. padahal hilal jodoh saya aja belum jelas, haha.”
“ndak apa-apa, mbak. semoga segera kelihatan dan dapat jodoh yang baik, soleh, bertanggungjawab, setia, dan penyayang, ya.”
ini bukan pertama kalinya aku mendapat doa sejenis itu tapi entah kenapa mendengarkan doa itu diucapkan oleh seorang wanita yang hubungan dengan suaminya sedang tidak baik (bisa kusimpulkan dari raut wajah dan nada bicara sinisnya), aku merasa sedih … tapi juga terharu. aku sedih karena sepertinya ibu penjual es teh jumbo ini sedang menjabarkan apa yang dia inginkan pula dari pasangan hidupnya — dan mungkin realitanya tidak terpenuhi saat ini
“aamiin, terima kasih, bu. semoga ibu juga selalu bahagia bersama keluarga, ya.”
sejauh kami berbincang, tiada seorangpun yang mampir ke tenant es teh jumbo itu. kesimpulannya, berarti aku memang salah satu anomali yang mau-maunya saat kedinginan di tengah hujan malah memilih minum es teh jumbo. tapi entah kenapa obrolan kecil ini membuatku sadar bahwa perempuan yang terluka itu tidak sedikit, dan cukup wajar. sesama perempuan juga bisa menyadari luka satu sama lainnya dari sinyal-sinyal tertentu yang tidak dapat dijelaskan dengan berbagai alat linguistik semata
mungkin aku tidak tahu apa permasalahan yang dialami ibu penjual es teh ini, dia juga tidak tahu bahwa saat ini aku sedang patah hati. tapi kami sama-sama paham bahwa jatuh cinta itu cukup berat dan harus banyak merelakan
rela untuk dipisahkan oleh jarak, rela untuk dipisahkan oleh kesalahpahaman
hujan sudah mulai reda, berganti menjadi gerimis yang anggun. yang tadinya rintik air jatuhnya beramai-ramai seperti sedang tawuran, kini jatuh pelan-pelan bak putri solo. aku menadahkan tangan untuk memastikan apakah sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan pulang.
“saya pamit dulu nggih, bu. hujannya sudah lumayan reda.”
“hati-hati mbak, mampir lagi ya kapan-kapan.”
aku mengangguk sambil tersenyum. es teh jumbo yang kubeli belum sepenuhnya habis, masih ada setengah dari cup jumbo yang akhirnya aku bawa pulang (peduli amat jika tercampur dengan rerintikan air hujan). selagi motorku melaju mengarungi jalan menuju kos, tiba-tiba aku teringat lagi dengan rasa sakit dari patah hati itu.
air mataku pun jatuh beriringan dengan rintik air hujan, yang kemudian bercampur, meracik sebuah menu baru; mungkin bisa dijadikan salah satu varian es teh jumbo di tenant tenant pinggir jalan itu. kira-kira, apa nama varian produk yang pas dari hasil air mataku ya, sebagai bukti bahwa aku telah mencintai seseorang setulus ini?