hari-hariku kini sudah tidak asing dengan sebutan bu guru cantik. entah itu dari murid, wali murid, ibu-ibu kantin, ibu-ibu di perjalanan, atau sesama guru lainnya sekalipun. bahkan kerap kali aku dijodoh-jodohkan oleh orang-orang ketika mereka tau bahwa aku sedang melajang dengan alasan "masa cantik cantik gini ga punya pasangan!" (jujur, aku agak sebel sih dengernya. emang kenapa kalau aku mau jadi perempuan cantik yang lajang tanpa bahan drama kehidupan tambahan bernama lelaki?). dan murid-muridku juga kerap memuji sampai bilang mau jadi cantik dan kalem kayak aku. lho, jangan nak, kalian belum tau aja hahaha jadilah lebih baik dan lebih oke dari saya dong!
well awalnya aku cukup tersipu dan senang. tapi lama-lama jadi terbiasa, dan tetap senang juga sih. tapi rasanya jadi tidak sespesial di awal... mungkin aku sudah mulai bosan dengan pujian pujian itu sampai kadang menganggap pujian itu hanya sebagai basa basi tak penting (ya memang sih???)
mungkin dulu terasa spesial karena aku tidak terbiasa dengan pujian "cantik", dan kata-kata lain yang menunjukkan kekaguman terhadap fisikku. pada awalnya, aku sangat tidak percaya diri, insecure, dan tidak merasa bahwa diriku cantik. aku bahkan semacam sudah menyerah di ranah itu, sehingga aku memutuskan mau jadi pintar saja (bodoh, padahal menjadi pintar atau cantik itu bukan pilihan, tapi keniscayaan!)
aku terbiasa belajar, membaca, dan menjadi pribadi dengan branding 'rajin' sejak SD sampai SMA. eh, tapi di SMA sudah tidak begitu begitu amat sih walau aku masuk kelas unggulan. pada intinya dulu aku merasa mau tidak mau harus menjadi pintar, soalnya aku nggak cantik. jadi daripada lemah di semua hal, aku harus mengusahakan salah satunya
aku dulu sampai tidak peduli dengan perawatan diri, sesederhana cuci muka pun aku masih mencuci muka menggunakan sabun batang, bukan sabun khusus wajah. sunscreen atau sunblock? tidak kenal. pokoknya produk-produk perawatan kulit dan tubuh, apalagi make up, sangat asing dengan kehidupanku saat itu. mungkin sebenarnya bukannya tidak tertarik, tapi ada bisikan dari dalam lubuk hatiku yang mengatakan "mau pakai skincare/make up atau tidak, aku akan tetap jelek. jadi ngapain make make begituan" ahahaha menyedihkan sekali, ya. aku sering dibilang jelek soalnya. entah karena kulitku yang berwarna gelap, badan kecil, tubuh pendek, gigi yang tidak porposional (kelinci/tonggos), rambut ikal, gak punya alis, pokoknya aku udah khatam sama semua gunjingan terhadap penampilan fisikku. sampai rasanya sudah bukan sakit hati lagi saat mendengarnya, melainkan marah kepada semua hal
tapi lama-lama aku menyadari juga, bahwa warna kulitku, rambutku, tinggi badanku ini merupakan warisan gen dari leluhurku. kalau masalah gigi, sebenarnya ini ada kesalahan dari ibuku yang saat itu baru pertama kali menjadi ibu dan belum terlalu handal dalam parenting. jadi beliau memang sempat kecolongan dalam perawatan/kontrol pertumbuhan gigiku pas aku masih bayi/batita/balita. jadi sebenarnya keluargaku giginya rapi semua, cuma aku yang enggak karena hal itu haha tapi gapapa, menjadi ibu untuk pertama kalinya memang susah dan challenging
kemudian, sampailah pada masa bahwa aku merasa sebenarnya aku cantik juga... aku lupa tepatnya pas apa. yang jelas, saat itu, aku merasa punya kulit sawo matang, tubuh pendek, gigi tidak rapi, dan rambut ikal itu adalah hal yang tidak jelek. orang-orang saja yang menentukan standar kecantikan sendiri yang sebenarnya nggak ada juga di al-qur'an atau alkitab. dan semakin luas akses wawasan dan relasiku, aku juga makin menyadari bahwa standar kecantikan di berbagai tempat itu berbeda, semacam region lock. bisa saja di negara A disebut jelek, tapi di negara B disebut cantik, dan vice versa. aku juga mulai menyukai model-model atau selebriti yang memiliki kesamaan bentuk fisik denganku. menurutku mereka cantik juga, dan energi percaya diri mereka saat tampil di depan banyak orang juga membuatku tergerak untuk memiliki energi yang sama juga!
dulu aku pernah dibilang mirip sama beberapa orang: dari tara basro, asmara abigail, laufey, sampai aktris korea aku lupa namanya siapa itu. aku kadang ngerasa "emang iya ya?" tapi yang bilang begitu gak cuma 1 2 orang aja, terus aku jadi kegeeran. masa sih aku secakep itu!! wkwkwkw
oiya, selain karena paparan wawasan yang makin mengglobal(?), mungkin salah satu titik balik yang membuat aku merasa kalau aku cantik (dan merasa orang-orang yang memujiku cantik itu tidak sugarcoat belaka) adalah ketika aku memiliki style sendiri dalam berpenampilan. aku punya ciri khas dalam make up dan tata cara berpakaian yang menurutku akan membuat orang-orang mudah mengenaliku. salah satunya adalah pemilihan warna. hampir 80% baju yang kupunya itu warna coklat :3 dan aku percaya diri ketika aku menggunakan outfit-outfit warna itu. rasanya aku jadi tampak lebih manis, gitu
walau begitu, ada juga saat saat ketika aku gak percaya diri dan ngerasa gak cantik. biasanya pas aku lagi down, merasa gagal, atau ada masalah dengan oranglain. aku kadang suka ngebanding-bandingin diriku sama orang-orang di luar sana. padahal hal kayak gitu gak baik dan gak etis juga buat diriku sendiri. jadi harap maklum kalau di suatu hari aku tampak sangat percaya diri dan memancarkan vibes self love, tapi di lain hari kalian ngeliat aku insecure dan gak merasa 'cantik'. menurutku hal seperti ini lumrah, namanya lika liku kehidupan dan kondisi emosional perempuan, kan
sebenarnya journey kecantikan pribadi ini bisa sangat panjang diceritakan. cuma aku lagi agak sibuk dan malas berpanjang lebar, jadi kupersingkat saja ehehehe. pokoknya, ada banyak alasan untuk bisa merasa cantik. so, jangan cepat menyerah, karena sebenarnya kita semua cantik jika kita sudah mampu melihat dan mempercayai bagian cantik dari diri kita sendiri, sekecil apapun bagian itu!
kalian juga jangan lupa merasa cantik ya hari ini! dan besok! dan besok besoknya lagi!!
dari aku yang merasa cantik hari ini :3

.jpeg)


0 komentar:
Posting Komentar