Minggu, 02 Desember 2018

instagram

Diposting oleh fuyuhanacherry di 21.46 0 komentar
#np : dean - Instagram


bukan puisi ini mah, apa yang kauharapkan dariku ini firdaus?

jadi pada akhirnya aku uninstal ig untuk.............kali ketiga? wkwkwkkwk ak org yg gakapok kapok ternyata. alasannya masih sama, semua yang ada di instagram terlalu gasehat buat jiwaku asek

terlalu banyak hal indah di instagram, cerita-cerita orang yang sepertinya selalu menarik untuk ditilik, karya temen-temen yang patut diapresiasi, dan itulah masalahnya; semua itu kadang menumbuhkan rasa salty dalam diriku dan secara diem-diem ansietasku juga naik karena hal tersebut. gasehat, sumpah bener-bener gasehat. aku udah sadar dari dulu sampe memutuskan uninstal, tapi akhirnya aku instal lagi karena apa? pengen ngestalk orang LMAO sekarang udah, kapok, lagipula mau ada ig atau kaga aku tetap bacot di sosmed manapun hahahaha cuma sepertinya ig bukan tempatku aja

persis kaya yang ada di lagunya dean yang instagram itu, rasa-rasanya emang yah gmn ya buk, kadang aku juga pengen ikut-ikut edgy kaya orang-orang tapi rupanya itu bukan wilayahku, akhirnya aku nyerah juga. tapi bukan berarti aku sama sekali gabuka ig ko. notif masi aku nyalain yang lewat browser jd kalo ada apa-apa masi keliatan dikit walo gabisa DM. dan aku juga masi suka cek ig cuma buat ngecek akun calon adek ipar aku hihihihihihi alias tern kulisala leechaiyapornkul UWU

ya bukan berarti dengan ninggalin ig semuanya bisa langsung membaik sih. engga gitu juga. buktinya sampe sekarang aku masi anxiety dan suicidal LOL cuma rasanya ada beban yang berkurang aja. apalagi pada dasarnya aku ini orangnya melankolis bu apa-apa dipikirin, terlalu overthinking lah. intinya tergantung orangnya juga sih sebenernya. cuma buatku, bye ig

sebenernya pengen uninstal WA juga karna sama-sama 'vibes'-nya apalagi sejak WA ada fitur snapnya BEUHHHHHHH panas-panasan doang isinya. padahal aku kan punya sosmed untuk mempermudah kehidupan ini napa malah mempersulit ya. tiap ada yang ngesnap kebahagiaan mereka aku selalu salty jujur aja, tambah insecure sama diri sendiri dan pen ded saja. orang-orang mungkin tidak ada yang menganggap status WA ku serius kali ya. padahal aku juga ingin dimengerti, kalo ingin bikin snap yang hepi-hepi tolong exclude in aku dong sumpah ini mah aku tidak suka melihat kebahagiaan orang. terimakasih atas pencerahannya bu haji, aku akan tetap berada di jalan setan WKWWKWKWKKWKWK jk intinya aku benar-benar harus mulai mengontrol pergaulanku irl maupun sosmed karena dampaknya sama-sama gede buat kondisi mentalku yang always berantakan 

andai aku kaya, yang bakal pertamakali aku lakukan adalah pergi ke psikiater

halo, selamat malam! oyasuminasai minna ikuzooo

Sabtu, 17 November 2018

sok-sok nginggris session

Diposting oleh fuyuhanacherry di 21.07 0 komentar
illustration by IDK BCS I JUST STOLE IT FROM PINTEREST IM SRRY ARTIST-NIM


[110818]

#1
as a dream that came out in our night
as you cant see the future reality
its nothing wrong to make a wish
on your 19th birthday
although it'll be the worst step
to sing a graduation song

dedicated for NCT Mark

#2
the two of us
breathing in the petrichor
that smells like our thoughts
then the rain stops
but we still stuck in the same feeling;
the hurt of the silence
with rain drops
as asmr

dedicated for ... whoever

#3
i'm lost
because
too easily
for me
to taken by
ur existence

dedicated for ... whoever (1)

#4
wherever you are
how many miles we're separated
in the end
our sky will always same
and our hearts will never match to each other
so, let me left

dedicated for every person...who i guessed wrong uwu



a/n 
maaf atas grammar dan tulisan yang merusak mata
ak cuma sedang mencoba utak atik yang bukan bahasa indonesia WKWKWKWWKW this is my frst time to write something like this tbh,,,,,will learn more and more in the future

chittapon leechaiyapornkul

Diposting oleh fuyuhanacherry di 20.28 0 komentar


Cerita, cita, hanya akan menjadi dua hal yang bersilangan
Harap, hanya satu hal yang melayang di atmosfer
Ilalang di lapangan yang tiap kali terinjak; takkan mempengaruhi telapakmu
Terima yang sudah digariskan
Tanda bahwa tak perlu ada yang diekspektasikan
Akan membawamu dalam rasa aman
Pun jikalau yang kamu pinta, kamu dapat
Orang akan menganggap kamu orang yang beruntung
Namun, nadimu bukan nadiku


Lebih lama menelisik kata demi katamu
Enggan pula aku berhenti
Enyahlah semua gelisah
Cuma kamu, adiksiku
Harimu adalah candu
Alih-alih lelah, tak ada lagi yang bisa kulakukakan
Inikah kelebihanku?
Yaitu berani menggantungkan semuanya padamu
Apakah keputusan yang naif?
Perlukah aku mempertimbangkannya lagi?
Omong-omong, aku sudah berada di ujung batas
Ragu sudah tak tersisa dalam relung
Neracaku sudah  tak memiliki sensor yang akurat
Kamu yang mengambil dan merusaknya
Untungnya, kamu tak keberatan
Lereng eksistensimu kuambil sebagai alasan



***


a/n 
coba baca gabungan huruf pertama setiap kalimat, hehe, BUCIN BGSY

100%

Diposting oleh fuyuhanacherry di 19.55 0 komentar
illustration by Kathrin Honesta


Kamu manusia
Layaknya aku
Mahluk tanah
Terkadang lembab, terkadang kering
Dan kamu adalah yang kedua

Raut wajah bukanlah ekspresimu
Suara bukanlah ungkapanmu
Kamu sembunyikan rasa lekat-lekat
Di balik jaket tebal coklat tua

Rupanya, kamu takut

Kamu mendengar prakata itu
Keidentikan manusia dengan sebutan ‘mahluk sempurna’
Kamu bingung
Kamu tak yakin ada di antaranya
Kamu merasa ada yang salah
Retak
Bercelah
Mengekspos pondasi dirimu yang rapuh
Penuh karat
Terus dihujani yang tak diharap
Kamu dapat dimengerti
Karena kamu, begitulah aku

Berada di bawah atap yang sama
Namun yang terinjak tidaklah demikian
Mendorong semua pergolakan
Dan kamu takut
Terkalut
Sampai rasanya aku ingin berbisik
Mengharap respon saraf pendengaranmu 

Hei, Aku,
sebenarnya kamu hanya belum mengerti
Bahwa sempurna tidaklah sama dengan seratus persen


Jumat, 03 Agustus 2018

lika liku luka

Diposting oleh fuyuhanacherry di 12.23 0 komentar


Pagi ini, untuk yang ketiga kalinya, aku mendapati keadaan tubuhku yang tak sepenuhnya baik; aku menemukan luka seperti bekas sayatan di lengan sebelah kiri atas. Rasanya sangat perih sebelum akhirnya aku mengobati luka tersebut dengan obat merah dan plester.



Ya, ini bukan pertama kalinya aku mengalami kejadian serupa. Beberapa hari sebelumnya, bagian tubuhku yang lain juga penuh dengan luka misterius yang baru kuketahui keberadaannya saat bangun dari tidur. Padahal seingatku, aku masih dalam keadaan baik-baik saja sebelum tertidur malam itu. Awalnya kupikir hanya keteledoranku dan aku tak perlu memikirkannya terlalu jauh. Namun setelah hal ini menimpaku berkali-kali, akhirnya aku memberanikan diri untuk bercerita pada sahabatku, Mei.



Mei adalah sahabatku sedari SMP. Dan kebetulan, kami satu SMA dan berada di kelas yang sama. Dia adalah perempuan yang sangat baik dan ramah dengan siapa saja. Karena itu lah, aku yang terkenal sulit bersosialisasi ini bisa berteman dengannya dengan baik. Mei bisa dibilang adalah kebalikan dari diriku—dia sangat hangat dan penuh semangat. Ia selalu memberi nasehat yang baik kepada teman-teman yang bercerita kepadanya. Dan aku sangat bersyukur bisa menjadi salah satu sahabatnya.



Aku menceritakan semua ceritaku dengan detail kepadanya saat kami berdua makan bersama di kantin, di jam istirahat pertama. Mei tampak sangat terkejut setelah mendengar ceritaku.



“Itu sangat aneh,” ungkapnya, kemudian menambahi, “Apakah ada barang-barang yang hilang di rumahmu saat itu?”



“Entahlah. Aku tak terlalu memperhatikan.” Aku menyeruput segelas jus jeruk yang tersaji di depanku, kemudian melanjutkan perkataanku, “Tapi sepertinya tidak ada. Keluargaku tidak ada yang meributkannya, sih.”



“Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang di rumahmu? Apakah mereka mengalami hal yang sama?”



“Sepertinya tidak juga.”



Mei mendengus. Sepertinya, ia telah menyerah untuk menebak-nebak apa yang terjadi padaku.

“Ah, sudahlah. Tampaknya, aku terlalu berlebihan memikirkannya. Ahahaha.”



Hari itu, semuanya berlalu seperti biasanya. Tidak ada yang menarik selain praktik seni tari pada jam pelajaran terakhir.



Esok hari pun datang menjemputku. Sekilas, aku merasakan ada yang tidak baik pada diriku tepat setelah aku membuka mataku untuk pertama kalinya pada hari itu. Kepalaku pusing, perutku terasa melilit, dan semua gambaran yang tertangkap oleh kedua mataku tampak seperti goncangan gempa. Untuk sekedar menggerakkan tanganku saja rasanya tak mampu. Aku terus berbaring di kasurku sampai pada akhirnya ibu menuju ke kamarku, dan saat itu juga seluruh pandanganku berubah menjadi hitam.



***



Aku mendapati diriku tengah berbaring di ranjang rumah sakit dengan pergelangan tangan yang tersambung dengan selang infus tatkala aku membuka kedua kelopak mataku.



Dan di ruangan itu, hanya ada aku seorang diri.



Aku kebingungan, kemudian segera mencari-cari ponselku—barangkali ada yang membawanya ke tempat ini, namun hasilnya nihil. Padahal aku berniat untuk menelpon Mei agar segera datang menemaniku di sini.



Kutarik nafasku dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. Tak lama setelah itu, sekelumit suara dari luar ruangan menelisik telingaku.



“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”



“Keadaannya cukup kritis, dan sepertinya kondisi psikologisnya lebih parah dari biasanya.”



Aku tertegun. Apakah yang baru saja dibicarakan adalah aku?



“Bagaimana dengan penanganannya, Dok?”



“Tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”



Tak lama kemudian, seorang pria muncul dari balik pintu. Sepertinya, dia adalah sosok yang disebut sebagai dokter barusan oleh lawan bicaranya.



“Kamu sudah bangun ternyata. Bagaimana perasaanmu?”



Aku kebingungan menjawab pertanyaan yang kupikir aneh untuk ditanyakan kepada pasien yang baru saja terbangun dari kondisi pingsannya. Namun, beberapa detik kemudian, aku pun menjawab, “Baik.”



“Ibumu sedang mengambilkan obat untukmu. Sekarang beristirahatlah.” Ia menyarankanku, kemudian melanjutkan kata-katanya yang sempat terjeda. “Mei.”



Dia menyebut sebuah nama yang tentu saja tidak asing lagi bagiku.



Dia telah menyebut nama sahabatku—yang selama ini berada dalam tubuhku sendiri.



Aku tersenyum.



Baiklah, sepertinya sekarang sudah saatnya aku memperkenalkan diri. Namaku Meika Natasha. Aku adalah seorang pelajar SMA berumur 17 tahun yang telah diagnosa menderita skizofrenia dan sindrom Muchausen sejak orangtuaku bercerai tiga tahun lalu. Dan tidak seperti remaja normal lainnya, aku tidak memiliki satu pun sahabat yang bisa kupercayai selain diriku sendiri—selain Meika Natasha.



Skizofrenia menyebabkanku berhalusinasi telah memiliki seorang sahabat yang baik, yang sebenarnya tidak pernah ada. Di sisi lain, Sindrom Muchausen menyebabkanku secara sengaja melukai diri sendiri—dalam kasus ini, aku menyayat lenganku setiap malam—demi mendapatkan perhatian dari oranglain.



Namun rupanya, walaupun aku sudah membuat diriku sendiri terluka, tetap saja tidak ada yang mempedulikanku—selain ibuku.



Aku menyadari bahwa aku bukanlah Putri Salju yang telah memakan apel beracun dari Ratu jahat, yang kemudian mendapat perhatian dari para kurcaci, bahkan diselamatkan oleh seorang pangeran; bukan pula seorang Rapunzel yang dikurung di atas menara dan kemudian diselamatkan oleh seorang pemuda baik hati.



Aku hanyalah seonggok bayangan di atas cermin cembung dari kisah mereka—aku justru memberikan apel beracun pada diriku sendiri, dan mengurung diri pula dalam menara yang kubuat sendiri.



Yang perlu digarisbawahi adalah : aku ingin seseorang menyelamatkanku.



Senin, 23 Oktober 2017

soreku

Diposting oleh fuyuhanacherry di 05.36 0 komentar
Kakiku menginjak tanah dengan rerumputan lembab yang pucuknya tak mencapai mata kakiku. Satu demi satu terus terinjak, tanpa kurasakan perasaan bersalah yang menyelimuti pikiranku. Memang, tak biasanya aku berada di tempat ini; lapangan desa yang berjarak sekitar limapuluh meter dari rumahku, pada suatu sore yang sepi. Biasanya, tempat ini ramai oleh pertandingan sepak bola anak-anak, tapi sepertinya hari di awal minggu bukan merupakan jadwalnya.

Aku terus menggerakkan kakiku sambil menatap awan putih berselimut semburat oranye. Ah, kalau kupikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan sehangat ini. Aku terus berjalan dengan pandangan yang diarahkan kea rah langit sampai tak kuduga sebelumnya, aku tersandunng sesuatu hingga akhirnya aku menghentikkan langkahku.

Kulihat ke bawah, ternyata batu berdiameter sekitar lima sentimeter.

aku memungutnya, dan melemparnya kea rah sungai kecil yang berada tak jauh dari pinggir lapangan, sehingga menimbulkan bunyi ‘plung’ dan membentuk gelombang lingkaran di atas permukaan air yang mengalir itu.

“Wah, wah, Aurel!”

Sebuah suara mengejutkanku. Tak lama setelah itu, muncul sosok pemuda dengan tinggi yang tak jauh berbeda denganku sudah berada di hadapan mata.

“Ah, lama nggak ketemu.”

Aku melemparkan senyumku semurni mungkin kepada laki-laki itu.

“Tumben kamu keluar rumah … ada apa?”

Ngga-”

“Ah! Pasti mencari inspirasi untuk menggambar, ya? Aku bener ‘kan?”

Aku menggeleng cepat. “Sok tahu, kamu ini.”

Laki-laki berambut agak panjang dengan kaos longgar berwarna putih itu kemudian duduk di atas batu yang berukuran lima kali lipat dari batu yang kulempar tadi. Ia lalu mengisyaratkan agar aku mengikutinya—duduk di atas batu di sebelahnya.

“Sore ini kelihatannya lebih sepi dari sore kemarin, ya.”

Suaranya memecah sorak sorai keheningan yang hanya terisi oleh suara angin yang terus meniupkan dedaunan. Lembut dan manis seperti permen kapas, entah kenapa, suaranya tak pernah gagal membuatku terpana. Apalagi jika dia menggunakannya untuk menyanyi.

“Bagiku tidak juga.”

“Bukan begitu.” Sosok di sebelahku menyangkal tak mengenal jeda, “Sore sebelumnya itu, saat kita masih SD itu. Bermain tembak-tembakan di tempat ini bersama teman-teman, sampai-sampai tak terasa sudah adzan maghrib.”

“Ah, yang itu.” Aku tertawa lirih sambil mengingat-ngingat kejadian tersebut. Ya, memang sudah lama sekali ….

“Ngomong-ngomong, ini aneh, ‘kan. Selama ini walau kita bertetangga, tapi kita jarang bersapaan lagi sejak lulus SD.”

“Iya, karena dunia itu berputar.”

Ucapanku tak segera dibalasnya. Aku pun menambahkan, “Kalau bisa, aku juga ingin terus mengobrol denganmu.”

“Kalau bisa?”

Sekujur tubuhku tiba-tiba saja mendingin, suhunya turun beberapa derajat dari angka normalnya, kukira. Aku tak menyangka kejadian saat ini—pada detik ini, bisa terjadi padaku—maksudku, hei, orang yang sedang berbicara denganku ini Ara, bukan? Laki-laki yang rumahnya tepat di seberang rumahku; yang kadangkala kutemui tengah bermain sepakbola di lapangan ini dengan anak-anak kecil; yang tidak pernah kuharapkan kepergiannya segenting apa pun.

Laki-laki di sampingku tersenyum lebar, “Terimakasih ya, sudah menemaniku di sini. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi.”

Tunggu.

Tunggu dulu.

Ini semua bohong ‘kan?

Kenapa aku sempat berbicara dengan sosok yang baru saja dikabarkan meninggal karena bunuh diri dengan melompat dari tebing yang berada jauh di ujung desa?

Apa yang sebenarnya terjadi?

“Ara—”

Tubuh yang tadinya teduduk santai di batu sebelah kini sudah tak terlihat lagi. Benar-benar menghilang.

Aku merenung. Pandanganku kosong. Tubuhku terpaku oleh kejadian—atau mungkin hanya fantasiku semata—yang barusan terjadi begitu saja.

Adzan Maghrib berkumandang. Aku segera bangkit dan melangkah pulang, sambil terus mencoba untuk melupakan sosok yang (bisa kubilang) telah menghantuiku itu.


Sore ini memang terlihat lebih sepi dari sore kemarin. Dan sore yang akan dating tidak akan lebih ramai dari sore ini—karena Ara sudah tidak akan pernah mengisi seluruh soreku lagi.

aku mengeluh; dan keadaannya tak berubah

Diposting oleh fuyuhanacherry di 05.32 0 komentar
Ada kalanya, aku menyangka bahwa laki-laki berkacamata itu sudah merasa aman dan akan selamanya bersamaku—menganggap bahwa aku adalah salah seorang yang dibutuhkannya dalam hidup, dan menjadikanku seseorang yang pantas naik ke istana kerajaannya. Aku pernah berpikir bahwa aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya, namun pada saat yang sama aku merasa aneh jika kebahagiaanku saat ini hanya karena jerat tali ‘persahabatan’ di antara kami.

Pada suatu sore di hari kegiatan eskul baseball berlangsung, aku baru menyadari bahwa semua firasatku sebelumnya hanyalah hal-hal palsu belaka. Aku terlalu jauh membawa perasaanku padanya sampai-sampai tak kuasa menahan nyeri dari sebuah duri yang menusuk di suatu bagian dalam hatiku—melukai separuhnya.

Aku tahu, Kousei menyukai gadis pirang pemain biola itu. Dia memang tidak mengatakannya padaku, namun pemandangan sore ini di ruang musik sudah memperjelas semuanya. Dua orang yang saling menatap satu sama lain dengan tatapan layaknya sebuah pasangan yang tengah berbahagia, dan aku yang mengintip di balik pintu yang terbuka seperenamnya—dua suasana berbeda dalam satu tempat.

Aku tak tahan melihat pemandangan itu lama-lama. Kukurung niatku dalam-dalam untuk mengajak Kousei pulang bersama. Hei, memang tidak apa-apa jika hari ini aku tidak pulang bersamanya. Sendiri itu menyenangkan ‘kan, Tsubaki?

Separuh dari bagian diriku mencoba menghibur diriku yang lain, pura-pura tak mengetahui hancurnya emosiku kala itu. Langkah kakiku terus membawaku menyusuri kotak demi kotak ubin lantai sekolah.

Dan aku tak akan menyadari bahwa air mataku mengalir sebegitu derasnya jika Watari tidak menyapa dan menanyakan keadaanku.

“H-hei, kenapa kau menangis?”

Aku mengusap air mataku dengan telapak tangan kananku, kemudian memberanikan diri menatap ke arah mata laki-laki itu menyorot.

“Kaupikir, apa aku tidak apa-apa?”

Watari adalah salah satu orang yang sudah pasti mengetahui bahwa aku tidak bisa dibuat menangis oleh alasan-alasan yang sepele. Tapi anehnya, kali ini aku berani mengakui kelemahanku ini. Aku tidak tahu pasti, rasanya, dalam situasi yang menyedihkan seperti ini aku sudah tidak kuat lagi untuk berbohong lebih lama.

Ah, aku baru ingat. Watari juga akan sedih jika mendengar cerita tentang apa yang baru saja membuatku menangis. Jadi, rasanya sah-sah saja bukan menunjukkan kelemahanku?

Lagipula aku tidak ingin merasa begitu bodoh dengan bersedih sendirian.

“Kousei dan Kaori saling menyukai ‘kan, Watari?”

Laki-laki di hadapanku tak mengubah ekspresinya. Nampaknya, dia sudah dapat menebak apa yang baru saja terjadi.

“Aku tahu.”

“Jangan sedih seperti aku, ya.”

“Tidak akan.”

Aku menatapnya dengan tatapan kesal, “Kau berbohong.”

Watari terdiam, menunjukkan senyum kepurapuraannya dengan bangga kepadaku.

Ah, tentu saja, siapa pula yang bisa menahan kesedihan setelah patah hati?

“Aku ingin ke kedai kopi. Mau ikut?”

“Kau ini ahahaha.” Tawaku meledak dengan lirih, tak seperti biasanya yang terdengar seperti orang gila di tengah kerumunan. “Baiklah. Traktir, ya?”

Watari memasang wajah kesal. Aku menepuk pundaknya dan tertawa tanpa mengerti apa yang sebenarnya kuketawai darinya.


Setidaknya, dengan merayakan sakit hati bersama orang lain, aku akan merasa lebih terbantu untuk bangkit, bukan begitu?
 

home sweet dream Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review