Rabu, 27 Mei 2020

dehidrasi diri

Diposting oleh fuyuhanacherry di 07.16 0 komentar

kupikir, haus adalah hal yang lumrah
khususnya ketika sehabis berkelana sendiri di tegah padang pasir
kepanasan
mencari tandu dan pelepas lelah
tapi sampai kapan aku akan haus?
padahal kalau lapar, akan ada kenyang
setelah semua yang kurang terpenuhi

hal itu membuatku berpikir;
eksistensi kesempurnaan begitu kelabu
entah nyata atau fana
atau nyata bagi sebagian dan fana bagi sebagian lainnya?

itulah,
bahkan kerunyaman dunia sekalipun takbisa mendedikasikan diri sebagai bukti



Selasa, 26 Mei 2020

26/5/20

Diposting oleh fuyuhanacherry di 16.42 2 komentar

Hello again

So eummmmm I decided to post this long rambling in this blog just in case I need it later

Lately, since like 1 month ago, I have some problem with my ownself. I feel so uneasy in every way, I cant think clear, and else. At first I think this is just some of my anxiety like usual, but as time past this thing annoys me a lot. Finally I chose to do some reflection and introspection with my own self to find out whats wrong with me

I think most of my close friends already know that I have a problem with my self esteem/self worth. Its like no day without downgrading myself. I always feel unworthy, unwanted, etc.

I know its not just me who can feel it, maybe some of you ever think the same as me but I don’t care about it anyway because this is my turn to express whatever im feeling BECAUSE THIS IS MY FCKIN BLOG so if you feel this will trigger you or something please stop reading from now on. I warn you.

Ok semua ini dimulai ketika gatau sejak kapan aku melihat semua orang di social media itu bersinar seperti bintang-bintang di langit. Mereka punya pesonanya masing-masing and being proud of it. Lalu simpelnya, aku iri. Yeah im that insecure bitj yang apa-apa mudah ngerasa rendah dan sampa. I cant deny it.

Kemudian merembet ke—hal yang sifatnya lebih personal. Kayak, aku mencemburui orang-orang lebih dari sekedar karena kelebihan mereka dalam hal talent prestasi penampilan dan lainnya. Tapi lebih ke semacam……………orang-orang kok bisa ya punya teman berbagi susah senang dsb. Kenapa kalo dalam kasusku cuma aku yang berbagi dan yang lain engga. Apa aku ga bener-bener punya guna ya buat mereka? Apa aku belum pantas dianggap sebagai sahabat karena aku selalu keliatan egois? Apa aku belum cukup menghargai mereka sampe aku merasa mereka juga kurang menghargaiku? Im sorry emang di sini aku meremehkan teman-temanku I cant lie but at this point I just feel like………….i have no right to lean on someone? Aku malah melihat diriku sebagai beban atas teman-temanku. And that’s a fact. They all know that I have such a mental illness called anxiety and its hard to deal with it. Even for myself. Kayak……………..cape sih pasti kalo jadi temenku karna akunya banyak ngeluh, banyak ngerasa negativity lainnya yang harusnya temen-temenku ini gaperlu tau dan gaperlu mikirin. And then I feel like Im lost. I have nothing. Aku cuma bisa ngandelin diri sendiri karena ya siapa juga yang rela dibikin cape sama aku?

Idk if this is just the impact of my trust issues or what. Aku ngerasa gara-gara hal-hal negatif yang terus muncul itu bikin aku makin suudzon sama semua orang termasuk orang-orang terdekatku. Aku mempertanyakan ketulusan mereka, kejujuran mereka, bahkan kebaikan yang udah mereka kasih selama ini. aku gabisa berpikir jernih sama sekali. Rasanya semua hal yang selama ini aku rasain tiba-tiba berubah jadi kebohongan dan aku takut tenggelam di dalamnya lebih lama dari ini.

Dan semakin direnungi aku semakin menemukan banyak kesalahan dari diriku sendiri dan berujung suudzon juga ke diri sendiri. Rasanya tiba-tiba semuanya jadi kebalik lagi—selama ini aku yang salah, pikiranku yang salah, aku yang ga tulus, aku yang terlalu banyak ekspektasi dan obsesi, aku yang nyakitin semua orang di sekitarku. Dan aku ngerasa aku harus menjauh dari semuanya. That’s why akhir-akhir ini aku merasa malas berinteraksi. Im not in a good mood to having interaction with everyone—kecuali temen-temen sekapalku sih. karena sejujurnya fangirlingin OTP adalah salah satu coping mechanism aku jadi aku pake itu buat ngedistract pikiran-pikiran negatifku.

Saking banyaknya kesalahan yang baru aku sadari itu aku merasa semuanya udah susah untuk diubah. Aku bakal selamanya busuk kayak gitu hahaha I don’t even understand kenapa masi ada yang mau keep in touch sama aku sampe sekarang. Aku merasa aku bukan orang yang baik dan ga deserve kebaikan mereka. Dan di sini aku suudzon lagi kalo semua orang Cuma kasian sama aku makanya bersikap baik dan segala macam. Kalo dijabarkan detailnya gaakan selesai sih. I hate my mind. Aku sebenarnya gasuka hal-hal yang terlalu mendetail tapi gatau kenapa kalo menyangkut negativity dan anxiety aku selalu memikirkan segala hal dengan deep dan detail. Aku paham betul semua ini karena aku sendiri yang nyiptain pikiran-pikiran toksik but i dont know what should i do...........i feel like i need help but i dont even know whats the spesific problem and how to fix it

Aku sebenernya masih belum nemu jawaban dari semua beban pikiran yang aku rasain sekarang. Tapi aku harap dengan mengekspresikannya dalam bentuk tulisan kayak gini  bisa bikin aku lebih lega dan meringankan beban pikiranku.

Dan aku ngga tau harus ngomong apalagi selain maaf. Mungkin ini klise, tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri dan yang paling jelas kurasain cuma rasa bersalah.

That’s all. May delete it later

Kamis, 14 Mei 2020

langkah sembilanbelas, menuju duapuluh

Diposting oleh fuyuhanacherry di 07.36 0 komentar
Kayaknya sudah saatnya aku kembali mengulas kehidupanku dan apa yang aku dapatkan selama setahun terakhir?


Yak, pas itu aku masih belum dapat tempat baru, dan sekarang akhirnya aku udah punya!

Sekarang aku berkuliah di salah satu PTN di jogja tapi tentu saja bukan yang dulu wkwk. Untuk prodinya sendiri, kali ini aku cukup terkejut karena bukan pilihan prioritasku. Tapi aku bersyukur masuk sini karena rupanya memang benar-benar cocok buatku. Emang tuhan tahu yang terbaik :D

Aku sangat bangga dengan keputusanku untuk menDOkan diri pada masanya HHAHAHAHAHAHAH yeah im so proud dan beberapa temanku juga mengaku bangga karena memilih keputusan yang lumayan besar kayak gitu tuh ga mudah. Aku bahkan sempat dicap picik, tidak tahu diuntung, bodoh, lemah, dan lain-lain karena memilih keputusan itu. Sekarang saatnya aku menertawakan kembali cacian mereka saat itu ehe. Im happy being here. Aku pelan-pelan dapetin apa yang aku cari-cari sebelumnya. Aku jadi makin sadar kalau aku worth buat ngelakuin apapun yang aku mau dan gaada orang yang lebih tahu tentangku lebih dari aku. Aku bener-bener menikmati kuliahku untuk kali kedua ini :) 

Sebelumnya, aku mau ngucapin makasih buat teman-temanku tersayang yang udah selalu ada buatku setiap saat. Di saat aku mencapai titik terendahku, sampai aku berada di titik self esteem paling tinggi. You guys are my life saviors. Kalo gaada kalian aku yakin aku udah beda dunia sama kalian hehe. Dan aku harap, kalian bakal selamanya juga sama aku, karena aku akan berusaha buat selamanya sama kalian. Cupcupcupppp jan nangis ea.

Ngomong-ngomong tentang temen, di kampus baru juga aku dapet temen-temen baru lagi. Entah di kelas maupun di UKM. Yak, aku memutuskan untuk masuk UKM univ dengan nekat haha soalnya aku belum pernah ikut gitu-gituan sebelumnya. Dan ini merupakan salah lain(?) keputusan yang patut aku banggakan

Jadi UKM ku ini adalah UKM yang menaungi minat seni rupa dan fotografi. Kebetulan karena aku suka keduanya hehe dulu sempet kepikiran mau ngedobel sama jurnalistik tapi kukurungkan niat. Aku tidak boleh gegabah karena satu aja belum tentu bisa konsisten apalagi dobel.

Selama di UKM ini banyak banget yang aku dapetin. Teman tentu saja, pengalaman pameran, pengalaman belajar ini itu, pengalaman masuk kepanitiaan, dan lain-lain. Tapi jujur yang paling bikin aku terkesan di sini adalah karena lingkaran pertemanannya. Kalo gabut, aku mainnya sama mereka. Mau makan di burjo juga barengnya sama mereka. Mau ini itu ujung-ujungnya ngajaknya mereka haha. Pokoknya seru dan karena orang-orangnya punya minat yang sama jadi suasananya supportif banget juga.

Terus selama kuliah di sini aku ikut kepanitiaan di acara jurusan juga. Ah, jujur, awalnya pas ikut ini aku merasa cukup beban(?) karena sebelumnya aku emang gapernah ikut kepanitiaan. Tapi lama-lama ternyata seru juga. Aku bisa kenal sama yang beda kelas, bahkan yang sekelas awalnya b aja jadi makin kenal, kemudian kenal kating-kating juga. Dan di sini aku merasa banget kalo jasaku sangat dihargai dan self worthku langsung meningkat drastis. Aku juga puas sama kinerjaku di sini dari bikin disen stiker, sertif, bikin dekor panggung, dll. Walo cape juga karna harus lembur-lembur dan harus bagi waktu sama kuliah dan pameran UKM.

Di kampus baruku ini aku punya makanan favorit baru yaitu cilor depan kopma kampus dan gacoan!!! Seminggu sekali aku pasti beli gacoan kayaknya. Enak banget abisan mnangos. Selama karantina pun yang paling aku kangenin adalah gacoan haha.

Trus apalagi, ya. Ah, hubunganku sama temen-temen dari kampus lama juga baik-baik aja. Walo Cuma ada beberapa yang masih keep in touch lewat wassaf (karena akunya sendiri yang menarik diri dari semuanya dengan ganti wassaf). Tapi beberapa bulan lalu aku sempat datang ke acara pameran mereka di JNM bareng temen-temenku di warai club. Nah ini gila sih, Alya sama Zuhdi yang dari semarang rela jauh-jauh naik motor ke jogja buat nemenin aku WKWKWKWKWWK selain nemenin ke pameran, kami juga sempet karokean bareng ehe. Pas itu seketika lupa kalo Febi udah ninggalin kita semua, padahal Febi juga kuliahnya di Jogja. Semoga tenang di sana ya, Feb :) we miss you.

Sekarang di penghujung semester 2 sebenarnya aku lumayan stress dengan perkuliahan online karena rata-rata Cuma diisi dengan tugas-tugas. Dan sekarang adalah minggu terakhir kuliah, tugas bener-bener auto numpuk semua ya Allah. Tapi semoga aku masih bisa mengatasinya. Kalian yang merasakan hal yang sama juga semangat, ya. Kita pasti bisa melewati ini!

Oh ya, jadi tahun ini adalah puasa pertama tanpa buka bersama sama anak-anak warai club. Jujur sedih banget. Soalnya tahun kemarin tu juga tahun terakhir kami bukber sama Febi. Dan sejak Febi meninggal kami belum pernah kumpul lagi fullteam. Aku harap corona cepat berakhir biar kami bisa kumpul lagi. Jujur aku kangen banget kumpul ma mereka. Tapi pasti sekarang suasananya beda banget karena ada pengurangan member ahaha.

Sekian jurnal yang merangkum ceritaku setahun terakhir ini. makasih udah baca sampai sini.

See you at the next step!!! uwuwuwuwuuwuww

Senin, 30 Maret 2020

mengandai usai badai

Diposting oleh fuyuhanacherry di 08.32 0 komentar
lamunku tertinggal
seorang diri
di bawah rindang pohon asam yang layu
meminta keringan terhadap sesuatu tak kasat
memohon belas kasih dari perih yang bersembunyi
diam, terbelenggu dalam kabut tebal
menetap di sudut-sudut cakrawala

sorak sorai angin mengejek
kikik burung-burung beringas
tersapu oleh teduh dedaunan yang melambai
memberi jeda pada tawa mereka
semesta memang lucu
bagi mereka yang terhempas
berlalu lalang tanpa arah
mengarungi sandiwara penuh dusta

pelan-pelan aku tenggelam
dilumat tangkai-tangkai pohon
menyisakan sebongkah harap
tanpa sempat memberi pamit
tanpa sempat meminta tunggu
aku hilang bersama badai

Selasa, 24 Maret 2020

melari melara

Diposting oleh fuyuhanacherry di 08.23 0 komentar

di balik jendela kaca, renung melumat keramaian
netramu memutus asa yang pernah kurajut
akan dunia yang sudah tenggelam dalam ombak-ombak riwayat
ia melawan arus yang selayaknya surut
berlarian bersama laju jarum jam
kembali pada huniannya di gelanggang

terpaan angin menahanmu
yang bersikeras berteriak
memecah gemerlapnya fajar
seakan-akan semesta sudah buta
sebab, mereka tidak mau tahu

sampai semuanya berakhir dalam sekali pasang,
lantunanmu hanya didengar oleh timbunan pasir,
di sepanjang bibir pantai yang sudah merindu lelap



Kamis, 27 Februari 2020

temu lepas rindu

Diposting oleh fuyuhanacherry di 06.33 0 komentar

Perjanjian itu kami sepakati di jam-jam larut, tepatnya saat itu aku baru saja selesai menipiskan tumpukan tugas kantor yang sudah menjadi tanggunganku malam itu. Katamu, saat itu kau tidak sedang melakukan apa-apa. Ingin kutanya untuk apa kau masih terjaga pukul sebelas malam begini, tapi kuingat kembali kebiasaan teman-teman lelakiku yang memang mematok begadang sebagai simbol daya tahan mereka dalam menghadapi hidup. Mungkin ada yang mengisinya dengan hura-hura, atau tipe yang melankolis akan lebih memilih merenungi segala kejadian sejak sedetik pasca angka 00.00 terpapar di layar ponsel mereka. Tapi rupanya kau tidak termasuk dalam tipe keduanya.

Kau menelponku secara tiba-tiba, memberi kejutan, karena memang aku tidak punya ekspektasi bahwa kau akan menghubungiku semalam ini—bahkan jika pun langit masih cerah, aku tetap tak memiliki ekspektasi semacam itu.

Sudah beberapa tahun sejak kita benar-benar bertemu secara tatap muka, dan kau mengajakku untuk bertemu empat mata. Aku tidak mengerti apa motif ajakanmu itu. Alih-alih mencoba mencairkan kecanggungan, aku menggodamu dengan berucap, “Kamu kangen, ya?”

Terdengar gelak tawa dari seberang sana. Aku menyadari lagi, sudah lama sejak terakhir kali aku mendengar tawa yang terukir di bibir yang memperlihatkan barisan gigimu. Dulu, dua tahun lalu, justru kau yang menggodaku dengan candaan semacam ini. Namun rupanya aku tak mendapatkannya lagi malam ini.

Aku menaruh sedikit curiga, sebenarnya. Dua tahun tidak bertemu secara langsung karena kita sama-sama kembali ke tempat asal sejak selesai dari studi S1 di kampus yang sama, dan aku sudah menemukan letak perbedaan dari caramu memperlakukanku dengan ucapan. Memang bukan waktu yang sebentar, sih, tapi hal ini rupanya sangat menggangguku. Sejak saat itu kita hanya berkomunikasi lewat teks-teks bisu di atas layar ponsel genggam, tak sedekat dulu yang jikalau salah satu ingin bercerita, sesegera mungkin kita mengadakan pertemuan di kafe seberang kampus. Ah, masa-masa itu, masa-masa klasik ketika aku masih bisa menikmati rasa-rasa pahit manis romansa; rindu, cemburu—yang sampai di akhir kesempatan, aku merasa hanya dimanjakan oleh jawaban yang tidak pasti. Saat itu, kalau boleh jujur, aku mengharapkan ada hubungan spesial yang terjalin dari kedekatan yang sudah terjalin sejak masa-masa orientasi, sampai bermuara pada wisuda bersama. Sepertinya sangat manis, jika hal itu terjadi. Akan sangat indah bila bisa kuceritakan kepada anak cucu kelak, khayalku, semakin jauh dari garis realita.

Kembali dengan sambungan telepon, kau mengatakan bahwa kau sedang berada di kota tempat tinggalku dan mengajakku bertemu. Aku mengusulkan sebuah kafe yang biasa menjadi tempat langgananku ketika mengadakan reuni dengan teman-teman SMA. Dan kau menyetujuinya.

“Kita bertemu di sana jam 10, ya.”

“Siap. Jangan biarin aku nunggu lama, loh, ya.”

“Hahaha iya, iya,” kau terkekeh kecil, “Jadi inget, dulu aku suka telat kalau kita janjian ke kafe.”

“Inget aja. Beneran kangen, ya?”

“Iya deh iya, bocil.”

Ah, panggilan itu. Hanya dia yang bisa memanggilku dengan sebutan itu selama kuliah. Dan aku baru menyadari bahwa aku cukup merindukan hal itu, walau sejatinya dia hanya mengolok-olok fisikku saja yang berbadan kecil.

Kami menutup perbincangan dengan ucapan selamat malam satu sama lain. Dan malam itu, tidurku jadi tak senyenyak biasanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku benar-benar tidak memiliki gambaran apapun tentang apa yang akan terjadi dengan pertemuan ini. Namun aku mencoba untuk biasa saja, melupakan rasa-rasa yang dulu pernah ada. Aku memastikan betul-betul bahwa aku sudah tak menyisakan perasaan apapun. Dan aku merasa telah mempelajari sesuatu dari masa-masa itu; harapan yang terlalu menukik akan memberikan bekas luka yang paling sakit.

Intinya, aku tidak ingin terjebak untuk kedua kalinya.

Namun, rupanya aku belum benar-benar belajar. Aku masih bisa merasakan kecewa, setelah kudapati bahwa tujuanmu menemuiku adalah untuk menghancurkan timbunan kenangan kita.

“Sebenernya, aku ketemu kamu di sini sekalian mau ngasih tahu sesuatu. Jadi, dua bulan lagi aku bakal nikah.”

Kalimatmu tersusun dengan rapi. Nada bicaramu pun terdengar biasa saja, tak ada kesan takut-takut atau ragu akan reaksiku—yang entah siapamu.

Tapi, bolehkah aku mengaku, bahwa sebenarnya dadaku terasa sesak setelah mendengar kata-kata itu?

Aku tidak bisa menjawab perkataanmu dengan cepat dan spontan, aku masih menelaah apa yang harus aku ucapkan, bagaimana respon ekspresi yang aku tunjukkan padamu? Otakku sedang benar-benar malfungsi kala itu. Kemudian aku memilih untuk meminum sedikit kopi yang telah kupesan, menghirup bau dari kepulan asap di atas wajah cangkirnya, dan baru setelahnya aku menanggapi, “Wah, ganyangka, udah mau nikah aja temenku.”

Aku butuh seseorang untuk menamparku, karena rasanya tiap kata yang kulontarkan malah menambah rasa perih dan melukai diriku sendiri, tapi mau bagaimana lagi. Aku bukan seorang avatar pengendali rasa.

“Tempatnya di Jogja. Jangan lupa dateng, ya. Nanti undangannya nyusul lewat online aja.”

“Wah, okeoke. Kalau boleh tahu, siapa calon istrinya?”

“Kamu nggak akan kenal, sih. Dia rekan kerja di kantor.”

Benar, aku adalah orang yang tidak tahu menahu tentangnya. Aku adalah orang asing.

“Oalah, semoga langgeng, ya, kalian.”

Aku benar-benar ingin segera mengakhiri sisa-sisa jam yang ada hari itu. Persetan dengan basa basi busuk ini—yang hanya menyoroti kebodohanku yang memilih untuk berpura-pura merestui. Aku ingin semuanya berlalu dan aku kembali dalam keadaan sebelum dia menelponku malam itu.

Aku mengutuk dunia yang telah mempertemukanku dengannya. Aku mengutuk rasaku padanya yang dengan taktahu malunya terus tumbuh tanpa meminta izinku. Namun sudahlah, aku pun akhirnya dapat menyimpulkan bahwa ini adalah akhir dari kisah yang selama bertahun-tahun menggantung, terombangambing, tak mengerti arah. Dan sebagai gantinya, aku akan menutup hati untuk beberapa saat.

            Aku tidak ingin memesan rindu yang salah lagi.

tentang kamu yang pernah bermimpi

Diposting oleh fuyuhanacherry di 04.24 0 komentar
kamu pernah bermimpi
tapi kamu lupa
lantas untuk apa meminta kabul?

kamu pernah bermimpi
tapi sudah usang
lantas untuk apa meminta ganti?

kamu pernah bermimpi
tapi tidak yakin
lantas untuk apa meminta lebih?

alih-alih meminta keringanan
kamu membuat semesta bingung
sebab tiada noda yang kamu tinggal
--di dalam mimpi itu

dua tahun setelah kamu tenggelam
dinyalakanlah lampu sorot ungu itu
mereka menyinari namamu
memberi keabadian pada seutas benang merah
yang sempat kauputus


[ didedikasikan untuk Ten Chittaphon Leechaiyaponrkul yang berulangtahun tepat di hari ini, 27 Februari 2020, yang ke-24. selamat mengulang hari lahir, kesayangan ]
 

home sweet dream Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review